Mobil Listrik Murah Bikin Pasar Otomotif Kembali Bergairah di 2025
Jakarta,Dapurpacu.com – Di tengah penjualan mobil konvensional yang mulai melambat karena suku bunga tinggi, pajak baru, dan ekonomi yang belum stabil, mobil listrik justru ngebut di jalur pertumbuhan. Fenomena ini bikin banyak orang bertanya-tanya: apakah kuncinya ada di harga yang makin bersahabat?
EV Jadi Penyelamat Pasar Mobil Nasional
Data dari Gaikindo menunjukkan, pasar mobil listrik di Indonesia terus melejit. Selama delapan bulan pertama 2025, penjualan wholesales mobil listrik mencapai 51.191 unit dari total 500 ribu unit mobil yang beredar di dealer. Artinya, 10,1% pangsa pasar nasional kini dikuasai mobil listrik, naik drastis dibanding 2021 yang cuma 0,5%.
Menariknya lagi, di 2024 mobil listrik sudah tembus 5% pangsa pasar. Artinya, hanya butuh satu tahun untuk melompat dua kali lipat!
Dan siapa rajanya? Tak lain BYD. Produsen asal Tiongkok ini mendominasi penjualan dengan 18.989 unit sepanjang 2025. Angka itu melanjutkan tren enam bulan pertama di mana BYD sempat menguasai lebih dari separuh pasar EV nasional.
Harga Makin Terjangkau, Daya Beli Naik
Salah satu alasan utama kenapa mobil listrik makin digandrungi adalah harga yang makin masuk akal. BYD misalnya, lewat model Atto 1 di segmen city car dan M6 di kelas MPV, sukses menarik konsumen baru.
Bandingkan saja biaya tahunannya. Mobil bensin kecil di kelas serupa butuh sekitar Rp 12 jutaan per tahun buat bahan bakar, pajak, dan servis. Sementara itu, BYD Atto 1 hanya menghabiskan sekitar Rp 5,6 juta per tahun jika pakai SPKLU, dan bahkan bisa turun ke Rp 3,6 juta per tahun bila rutin ngecas di rumah.
Perbedaan biaya operasional ini jelas jadi daya tarik tersendiri. Selain ramah lingkungan, mobil listrik juga terbukti lebih efisien dan ekonomis untuk pemakaian harian.
Milenial dan Gen Z Jadi Motor Penggerak
Menurut Yannes Martinus Pasaribu, akademisi dari ITB, kehadiran mobil listrik murah bikin pasar semakin inklusif. “Harga yang kompetitif bikin kalangan menengah, terutama milenial dan Gen Z, lebih mudah mengakses kendaraan listrik,” ujarnya.
Generasi muda yang hidup di kota besar umumnya lebih responsif terhadap teknologi baru dan efisiensi biaya. Mereka bukan hanya cari kendaraan keren, tapi juga fungsional, hemat, dan punya nilai tambah.
“Buat mereka, mobil listrik bukan cuma soal gaya hidup, tapi pilihan rasional,” tambah Yannes.
Tantangan: Pasar Masih Terbatas
Meski pertumbuhannya cepat, kontribusi EV terhadap pasar otomotif nasional masih di bawah 10%. Artinya, efeknya belum cukup kuat untuk mendongkrak industri mobil secara keseluruhan.
Menurut Yannes, faktor makro seperti kenaikan pajak dan suku bunga masih jadi penghambat utama. Tapi, dengan makin banyaknya model EV murah yang masuk, bukan mustahil angka itu bakal terus naik.
EV Bukan Lagi Tren, Tapi Keniscayaan
Beberapa tahun lalu, mobil listrik dianggap barang mewah, hanya untuk kalangan elit atau pecinta teknologi. Kini, persepsi itu berubah total. Harga makin bersahabat, biaya perawatan irit, dan infrastruktur yang terus berkembang membuat EV bukan lagi sekadar tren, tapi masa depan otomotif Indonesia.
Pasar boleh lesu, tapi mobil listrik datang membawa napas baru. Kalau tren ini terus berlanjut, bukan tak mungkin era mobil murah dan ramah lingkungan bakal jadi wajah baru otomotif nasional. (dp/ay)
