BYD Masih Jadi Raja Mobil Listrik, Subsidi Jadi Faktor Kunci
Dapurpacu.com – Pasar mobil listrik di Indonesia makin panas, tapi satu nama masih susah digeser: BYD. Pabrikan asal China ini kembali mendominasi penjualan sepanjang Januari–Agustus 2025. Andalan utamanya, BYD M6, sukses jadi mobil listrik terlaris dengan distribusi wholesale mencapai 8.619 unit. Angka ini bikin M6 nangkring di posisi puncak, mengungguli saudaranya BYD Sealion 7 di posisi kedua dan Denza D9 di urutan ketiga.
Deretan 10 Besar, BYD Paling Mendominasi
Menariknya, dalam daftar 10 besar mobil listrik terlaris versi Gaikindo, BYD nggak cuma hadir sekali. Selain M6 dan Sealion 7, ada juga BYD Atto 3 yang nangkring di posisi delapan. Praktis, tiga model BYD ikut menguasai persaingan, meninggalkan brand lain seperti Chery iCar yang berada di posisi keempat, serta trio Wuling (Air EV, Binguo EV, Cloud EV) yang berturut-turut duduk di peringkat lima sampai tujuh.
Geely EX5 dan Aion V melengkapi dua slot terakhir dalam daftar 10 besar. Kalau dilihat, dominasi merek China memang makin kuat di pasar EV lokal, dengan nama-nama Jepang atau Eropa seolah hilang dari radar.
Angka Penjualan Terus Naik
Sepanjang delapan bulan pertama 2025, distribusi mobil listrik di Indonesia tembus 51.191 unit. Khusus Agustus, distribusinya naik tipis jadi 6.358 unit, dari bulan sebelumnya 5.869 unit. Dari total itu, BYD berdiri gagah di posisi pertama sebagai merek mobil listrik terlaris dengan angka 18.989 unit. Beda jauh dari para pesaing terdekatnya: Wuling (7.319 unit), Denza (6.548 unit), Chery (5.717 unit), dan Aion (3.851 unit).
Subsidi Jadi Angin Segar, Tapi Akan Berhenti
Kesuksesan BYD dan merek China lainnya nggak bisa dilepaskan dari kebijakan subsidi mobil listrik yang masih berlaku. Subsidi ini jadi salah satu faktor pendorong minat masyarakat untuk beralih ke EV. Tapi kabar terbaru, program ini bakal stop di akhir 2025.
Mulai 1 Januari 2026 hingga akhir 2027, aturan bakal lebih ketat. Produsen yang sebelumnya impor utuh (CBU) wajib produksi lokal sesuai tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Jadi, kalau mau tetap bermain di pasar Indonesia, pabrikan harus siap invest pabrik dan ikut kuota produksi.
Dengan performa penjualan seperti ini, BYD jelas bukan pemain main-main di Indonesia. Tantangannya nanti ada di era pasca-subsidi, apakah mereka tetap bisa mempertahankan dominasinya lewat produksi lokal atau justru memberi ruang bagi pesaing lain untuk unjuk gigi. Satu hal yang pasti, konsumen kini punya lebih banyak pilihan mobil listrik, dan pasar EV tanah air makin menggeliat. (*AY)
