Mengapa Toyota ‘Kalah’ Bersaing di Negeri China

Mengapa Toyota ‘Kalah’ Bersaing di Negeri China

BEIJING (DP) – Tak terbantahkan, sekarang China tampil sebagai pasar otomotif terbesar dunia, mengalahkan Amerika Serikat. Untuk itu, semua pabrikan kini menempatkan China sebagai target untuk ‘dikuasai’. Bagaimana dengan Toyota?

Toyota Motor Corp. sempat bertengger di posisi kedua di China, di bawah Volkswagen. Itu terjadi pada 2015 silam. Tapi setelah itu, raksasa otomotif Jepang ini secara pasti dan perlahan terus tergerus pangsa pasarnya seiring dengan cenderung mendatarnya kinerja penjualan mereka, sementara para rivalnya justru menikmati pertumbuhan penjualan. Bahkan Hyundai Motor Co. yang baru bangkit setelah terkena aksi boikot menyusul ketegangan politik antara China dengan Korea Selatan, juga mencatat peningkatan penjualan. Apa yang terjadi dengan Toyota?

Kolomnis Bloomberg Gadfly, David Fickling, menyebut problem terbesar Toyota di Negeri Tirai Bambu adalah minimnya jajaran model kendaraan yang cocok buat konsumen China yang kini banyak mengincar model SUV/crossover dan kendaraan listrik. Di segmen SUV dan crossover, Toyota jelas kalah bersaing, sehingga membuka peluang besar bagi para rival untuk menguasai segmen seksi tersebut.

Coba perhatikan geliat Honda Motor Co. yang mengandalkan XR-V dan Geely Automobile Holdings Ltd. melalui model Emgrand X7. Sedangkan peluncuran C-HR yang dilakukan Toyota tahun ini di China, memang dapat membantu mendongkrak penjualan, tapi langkah itu sudah terlalu terlambat untuk memenangi persaingan.

Masalah lain yang menghambat pertumbuhan Toyota adalah soal keterbatasan kapasitas produksi. Target menjual 1,4 juta kendaraan di Negeri Panda selama 2018, sepertinya sebuah target yang di awang-awang, alias sulit tercapai. Pemicunya adalah soal keterbatasan kapasitas produksi yang disebutkan tadi. Dari sini, Toyota tampaknya akan sulit berkejaran dengan VW, Honda dan Geely, belum lagi General Motors Co. yang sudah menjual lebih dari 4 juta unit tahun lalu.

Tancap gas

Kondisi di China itu harus menjadi pembelajaran bagi Toyota, yang kini menguasai hampir separuh pangsa pasar di Jepang dan bersaing ketat dengan Ford Motor Co. untuk memperebutkan posisi kedua di Amerika Serikat. Sang ‘Samurai’ tetaplah memiliki ketajaman untuk melibas semua pesaingnya jika mau. Apalagi mereka juga sudah mencanangkan program ‘New Vehicle Zero CO2 Challenge’.

Dalam program itu, Toyota akan berupaya untuk mengurangi emisi CO2 kendaraan hingga 90 persen dibandingkan dengan level pada 2010, pada 2050. Tantangan ini tak hanya dengan meningkatkan daya jelajah kendaraan, tapi juga mempercepat pengembangan mobil ramah lingkungan dengan emisi rendah atau nol persen, yang meliputi kendaraan ybrid (HV), plug-in hybrid vehicles (PHV), kendaraan listrik (EV), dan fuel cell vehicles (FCV), dan menjual mobil-mobil ‘hijau’ itu ke seluruh dunia.

Program Toyota itu tentu relevan dengan kebijakan yang diterapkan pemerintah China, yakni mewajibkan semua pabrikan menyisihkan 8 persen mobil ramah lingkungan dari total kendaraan yang dijual di negeri itu. Meski penjualan Prius tak bagus-bagus amat, namun varian plug-in hybrid dari model Corolla dan Levin yang segera diluncurkan, diharapkan dapat menjadi senjata andalan Toyota.

Untuk diketahui, Beijing lebih memilih kendaraan plug-in hybrid ketimbang hybrid biasa untuk mendapatkan insentif dan perlakuan khusus layaknya mobil listrik. Dari sinilah seharusnya Toyota dapat memanfaatkan kebijakan Beijing itu untuk mengeruk untung dengan mempercepat penerapan program New Vehicle Zero CO2 Challenge.

Perhatikan langkah agresif Geely melakukan ekspansi, kemudian Nissan Motor Co. yang berencana belanja 1 triliun yen di China untuk bersaing di pasar mobil listrik China, dan bahkan Hyundai dan Kia Motors Corp. yang menargetkan penjualan 1,35 juta unit tahun ini di Negeri Tirai Bambu setelah merosot pada 2017. Semua itu berpotensi memberikan risiko bagi Toyota untuk tertinggal dalam persaingan jika tak bergegas untuk berubah.

Menganalogikan dalam sebuah balapan mobil, kesabaran dan kehati-hatian itu memang bijak, tapi jika Anda tak punya niat untuk menjadi yang terdepan, Anda berisiko berakhir di pit. (DP)

Oleh: Teguh Ralfa (Kontributor)

© 2018 Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com All Rights Reserved.
KOMENTAR

  1. Benn
    9 February 2018

    Dan Grup Astra masi bangga dengan pembodohan masalnya d Indonesia yg menggunakan Produk Daihatsu, kwalitas Daihatsu, harga Toyota ntuk mengeruk untung dr konsumen Kampungan bergengsi lebay pamer merek