2018 Jadi “Kurukshetra” Jilid 2 Antara Mobil Jepang VS Mobil China

2018 Jadi “Kurukshetra” Jilid 2 Antara Mobil Jepang VS Mobil China

JAKARTA (DP) – Tahun depan, Indonesia akan jadi “Kurukshetra” jilid kedua. Setelah perusahaan gabungan SAIC-GM-Wuling Automobile (SGMW) mendarat ke bumi pertiwi dengan kode agen Wuling Motors. Tahun depan, agen China kian menambah kekuatannya lewat perusahaan induk DongFeng Motor Corporation – DongFeng Sokon dengan kode agen PT Sokonindo Automobile.

Jika Wuling memulai “pukulannya” ke segmen MPV, maka Sokonindo mendapat jatah pertempuran di area SUV melalui model Glory 580, dan pikap. Kedua segmen ini jamak diketahui memang menjadi basis besar para agen Jepang di industri otomotif Indonesia.

Alarm keras “Siaga 1 MPV” setidaknya sedikit banyak sudah terbukti. Kemampuan bertempur Wuling Confero di segmen paling gemuk sekaligus berbahaya itu cukup membuat pemain Jepang kewalahan. Hanya dalam beberapa bulan, Wuling Confero sudah mencatatkan pemesanan sebanyak 3000 unit hingga November kemarin. Bahkan, tidak saja merusak pasar low MPV tapi juga berimbas ke kelas mobil murah atau low cost green cars.

Belum selesai mengantisipasi, pada awal tahun depan (2018) Wuling Motors ternyata sudah menyiapkan amunisi barunya di kelas medium MPV dengan model Wuling Cortez guna bertarung melawan Innova. Sementara sebagian agen Jepang masih saja berkutat dalam restrukturisasi pasukan di dalam.

Performa Wuling jelas cukup sukses memukul mundur dominasi agen Jepang di pasar otomotif Indonesia. Belum Wuling terselesaikan, kini DongFeng Sokon lewat perpanjangan tangannya PT Sokonindo Automobile sudah menyuarakan kehadirannya dan mengambil area berbeda yang juga menjadi pasar besar kendaraan penumpang di Indonesia.

Pasar SUV Indonesia dan Ancamannya

Tak jauh berbeda dari agen pertama, Sokonindo memulainya dengan kesiapan bertempur secara penuh. Tidak seperti agen China terdahulu yang hanya memanfaatkan garis penjualan di Indonesia, Sokonindo juga membangun basis produksi lokal berkapasitas 50 ribu unit di Cikande, Banten.

Modal pertama sudah dikucurkan sebesar 150 juta dollar US dan secepatnya bertambah hingga 300 USD. Untuk langkah pertama memang masih kecil dibanding Wuling sebesar 700 juta USD.

Namun perlu diketahui, DongFeng juga merupakan perusahaan otomotif “plat merah” maka tidak menutup kemungkinan kucuran dana itu akan terus meningkat, apalagi China saat ini memiliki ambisi besar dengan performa finansial besar, agen Jepang tentu paham dengan slogan “Money can buy everything”.

Basis produksi lokal jelas membuat produk Sokon di Tanah Air akan sangat kompetitif soal harga. Sementara kelebihan teknologi dan fitur sudah terbukti dari peluncuran Glory 580 beberapa waktu lalu. Karakter mobil China yang tidak pelit fitur adalah pekerjaan rumah bagi agen Jepang.

Selain itu, jangan lupa juga dengan Wuling. Di kelas yang penghuninya ada Honda CR-V, X-Trail, atau lebih kecil Rush-Terios, dan BR-V. Wuling sudah punya modal lewat basis model di China, Baojun 560 dan kebetulan Dapurpacu.com sudah pernah mencoba performanya. Jadi “Siaga 1 SUV”  bukan hal mustahil harus diterapkan oleh agen Jepang pada tahun depan.

Siapa DongFeng Motor Corporation
Membaca kekuatan agen kedua China ini, DongFeng Motor Corporation merupakan perusahaan otomotif China yang bermarkas di Wuhan. Pertama kali didirikan, DongFeng serius menggarap kebutuhan kendaraan komersial kemudian berlanjut ke kendaraan penumpang.

Jika di Indonesia nama mobil berlogo “Dual Sparrow” ini masih asing ditelinga, tapi ternyata DongFeng menjadi perusahaan otomotif yang masuk dalam daftar empat besar di China, selain Chang’an Motors, FAW Group, dan SAIC Motor.

Pada 2012, volume produksi kendaraan DongFeng sudah membukukan sebanyak 2,76 juta unit, dan 73 persennya adalah mobil penumpang. Di pasar China sendiri, kualitas produk DongFeng cukup diakui setelah mereka mengembangkan pusat R&D (Research and Development) di luar China dengan mengakuisisi 70% saham perusahaan teknik Swedia, T Engineering AB.

Pengembangan itu terus berlanjut, ketika perusahan melakukan aliansi ke beberapa perusahaan luar China, seperti Renault, dan Kia. Pada 2014, DongFeng juga membeli 14% sahan PSA Peugeot Citroen. Hasil kerjasama tersebut tentu menambah kemampuan DongFeng menghasilkan produk global yang diinginkan.

Selain itu, modalnya untuk melawan agen Jepang di Indonesia juga harus diperhitungkan dari pengalaman DongFeng bekerjasama dengan pemain Jepang di pasar otomotif China, seperti Honda, Infinity dan Nissan. Di mana, kerjasama mereka berupa memproduksi suku cadang.

Sementara DongFeng Sokon sendiri merupakan hasil patungan Dongfeng dengan perusahaan lokal Chongqing Sokon Industry Group Co Ltd. Saat ini, produk mereka yang tetap membawa logo “Dual Sparrow” sudah dipasarkan ke berbeagai negara seperti Peru, Swiss, dan Inggris. [dp/Rdo]

© 2017 Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com All Rights Reserved.
KOMENTAR