Mengenal Profesi “Mata Elang” Si Pemangsa Kreditur Macet

Mengenal Profesi “Mata Elang” Si Pemangsa Kreditur Macet

JAKARTA (DP) – Ketika matahari mulai menabur sinarnya, saat itulah sebagian besar pekerja merayap di antara pagi menuju tujuannya. Jalan Ciputat Raya seperti biasa melayani para pencari rezeki, apa pun itu. Tak terkecuali sekelompok orang yang terlihat khas, berdiam sambil bernaung memegang alat komunikasi yang juga berbeda dari kebanyakan.

Mereka juga adalah pekerja, sebuah profesi yang memantau angka (plat nomor) kendaraan kemudian dihafalkan lantas memasukkannya ke dalam sistem yang tersimpan di ponsel model communicator. Ponsel pintar Nokia pada jamannya ini juga menjadi ciri khas mereka.

Kelompok di atas merupakan sebuah profesi bernama debt collector dan sering digelari sebagai “Mata elang atau Matel”. Tugasnya mencari kendaraan yang pemiliknya masih belum menyelesaikan pembayaraan cicilan atau kredit macet.

Sebutan “Mata elang” sendiri lahir karena pekerjaan mereka yang mengandalkan kefokusan dan kekuatan penglihatan mata, saat melacak setiap nomor polisi (nopol) kendaraan yang lewat, dan kemudian kelincahan memasukkan nomor kendaraan serta mencocokkannya ke sistem.

Jika terindikasi kredit macet, maka dengan gerakan yang paling cepat para matel mengejar “mangsa” yang sudah terkunci radar tersebut.

Fenomena profesi matel memang sudah cukup lama muncul di Ibu Kota. Di mana, banyak perusahaan pembiayaan menyelesaikan permasalahan konsumennya yang tertunggak pembayaran cicilan dengan menyewa jasa pihak ketiga, yakni perusahaan yang mempekerjakan para debt collector jalanan.

Dapurpacu.com pun coba menyambangi salah satu matel yang ditemuai di sekitaran Jalan Ciputat Raya, Tangerang Selatan.

Laki-laki berdarah Timur yang tidak mau disebutkan namanya itu mengatakan, bahwa profesinya sebagai matel sudah dijalani selama 2 tahun. Awalnya hanya diajak teman hingga terus berlanjut. “Saya diajak teman ikut kerjaan ini, dan sampai sekarang,” ungkapnya.

Statusnya sendiri, matel berada di pihak ketiga dari bisnis perusahaan pembiayaan kendaraan bermotor. Artinya, para matel tidak secara langsung sebagai karyawan tetap dari perusahaan pembiayaan, mereka hanya sebagai tenaga alih daya (outsource) yang dikontrak perusahaan pembiayaan (pihak pertama).

Karena posisinya sebagai pihak ketiga inilah, terkadang sistem kerja mereka tidak terkoordinasi dengan baik. Banyak masalah yang timbul saat dalam penugasan, bahkan tidak sedikit terjadi kekerasan. Sementara pihak pertama sama sekali tidak mengetahui dan lepas tangan.

Namun, seiring waktu dan banyaknya kasus yang terjadi. Saat ini, perusahaan yang mempekerjakan mereka pun mulai berbenah, terutama memperbaiki standard operating procedure (SOP).

“Kalau saya dan teman-teman resmi bang, jadi kita turun di jalan itu memegang surat tugas, jadi kalau konsumen mengelak atau mempertanyakan saya dari mana, maka akan saya tunjukan surat tersebut,” jelasnya.

Cara Kerja Mata Elang

Sebagai pencari target kreditur macet dengan tunggakan paling rendah 3 bulan, matel yang bertugas sudah diberikan data seluruh kreditur yang terindikasi lewat nomor polisi kendaraan.

“Data itu memang sudah kami dapat dari kantor yang telah dimasukan ke dalam ponsel Nokia 9300 Comunicator. Karena ponsel ini yang paling mudah mendukung pekerjaan kita,” paparnya sambil sesekali melihat kendaraan yang lewat.

Cara kerjanya, lanjut salah seorang matel, adalah dengan mengetik setiap nomor polisi yang dilihat. Kemudian dengan cepat memasukkannya ke sistem. Jika muncul nomor polisi yang dimaksudkan, maka matel langsung bergerak.

Bukan perkara mudah memang, fokus dalam memperhatikan setiap kendaraan yang lewat dan cepat menghafal nomor polisi yang diincar menjadi kunci keberhasilan dalam pekerjaan ini.

“Jika terindikasi dan kemudian kami kejar untuk diberhentiin. Selanjutnya, kami mulai berkomunikasi dengan kreditur dan menjelaskan bahwa motornya masuk dalam daftar yang menunggak lebih dari 3 bulan.”

Selanjutnya, matel mengarahkan agar pengendara ikut dengannya ke kantor leasing terdekat. Tahap berikutnya, maka akan menjadi urusan perusahaan pembiayaan (pihak pertama).

Diakui salah satu matel, dalam proses tersebut konsumen juga dikenakan biaya penarikan motor. “Saat motor ditahan, jika ingin dibawa kembali konsumen harus membayar tunggakannya termasuk biaya penarikan, maka motor akan dikembalikan lagi,” terangnya. [dp/Res]

© 2017 Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com All Rights Reserved.
KOMENTAR