Motor Listrik GESITS: Sebuah Pesan untuk Negara

Motor Listrik GESITS: Sebuah Pesan untuk Negara

JAKARTA (DP)–Negeri ini sudah lama merdeka. Tapi belum sepenuhnya merdeka. Setidaknya dalam aspek otomotif. Sudah 72 tahun sejak Naskah Proklamasi dibacakan, bangsa Indonesia belum bisa menikmati kendaraan hasil rancang bangunnya sendiri. Padahal kita mampu menciptakan.

“Apakah Indonesia terlalu bodoh untuk bisa menciptakan sepeda motor, sehingga butuh impor kendaraan sejenis berinsentif agar kita bisa membuat hal serupa?” Pertanyaan tersebut dilontarkan Pemimpin Redaksi Dapurpacu.com Wisnu Guntoro Adi di hadapan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI Mohamad Nasir dan beberapa pejabat pemerintah dari kementerian Industri dan Pekerjaan Umum pada saat konferensi pers penandatanganan perjanjian kerjasama produksi sepeda motor listrik GESITS di kawasan industri PT WIKA di Cileungsi, Bogor, Jumat (18/9), pekan kemarin.

Pertanyaan menyentil itu disampaikan karena kegelisahan pada isi Rancangan Peraturan Presiden Republik Indonesia tentang percepatan pemanfaatan tenaga listrik untuk transportasi jalan. Khsusnya pada Bab 4 pasal 9 dan 10, di mana disebut tentang pemberian izin impor dengan bonus insentif kepada badan usaha yang ingin melakukan impor kendaraan listrik. Rancangan peraturan tersebut disebutkan dengan dasar sambil menunggu kesiapan Indonesia dalam hal industri kendaraan bermotor listrik.

“Pertanyaan saudara sama seperti yang ada di dalam kepala saya,” kata Mohamad Nasir. Dia menambahkan bahwa bangsa kita telah mampu menciptakan kendaraan sendiri. “Kita hanya perlu keberpihakan pemerintah agar industrialisasi kendaraan bisa berjalan. Pemerintah harus bisa melindungi produk bangsa. Setiap kementerian harus jalan bersama dan satu visi,” lanjutnya.

Apa yang dikatakan Nasir tersebut sebenarnya merupakan pesan yang ingin disampaikan kepada Kementerian Perindustrian. Menurut Nasir, pemberian izin impor kendaraan listrik berinsentif dengan alasan sambil menunggu kesiapan industrialisasi nasional tidak sepenuhnya diperlukan. “Terpenting pemerintah harus bisa melindungi investasi dalam negeri yang sedang berusaha membangun industri kendaraan nasional. Karena pada dasarnya kita mampu dalam hal teknologi dan pemasaran.”

Sebelumnya, dalam pidato tertulis Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang dibacakan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika, I Gusti Putu Suryawirawan, menyebutkan, “Sebenarnya Indonesia mampu merakit dan membuat sendiri kendaraan di Indonesia dengan merek dan komponen dari dalam negeri. Akan tetapi volume penjualan produk otomotif asli dalam negeri masih minim.”

“Industri itukan membutuhkan volume, kita bisa membuat tapi kalau volume produksinya tidak cukup, itu akan menjadi masalah. Kita lihat sekarang, pasar tersebut dikuasai oleh asing, karena saat ini mereka memiliki volume. Sekarang dengan GESITS kita mulai dengan sesuatu yang baru,” ucap Putu.

Karena itu, diterangkan Putu, Indonesia harus bisa bekerjasama dengan merek-merek kendaraan asing yang telah memiliki jaringan pemasaran kuat di dalam negeri. “Kita juga harus memikirkan layanan purna jual dan ketersediaan komponen. Dalam konteks ini pihak yang sudah siap adalah merek-merek asing di dalam negeri.”

Putu juga menjelaskan bahwa selain pabrik, industri harus memiliki volume. Menurutnya, sebuah industri otomotif juga membutuhkan Research & Development (R&D). “Jika pabrik tidak memiliki R&D, itu bukan industri,” tambahnya.

Meski Putu sepakat dengan yang disampikan Nasir bahwa Indonesia harus punya kemandirian. “Sekarang waktunya kita berubah. Kita menghadapi persaingan ketat. Kita tidak bisa lagi mengandalkan pihak-pihak lain, meskipun kita tahu merek-merek asing yang ada di Indonesia itu sebetulnya adalah produksi atau buatan anak-anak kita sendiri.”

“Mereka yang membuat, komponen mereka yang membuat, tapi mereka bukan yang memegang merek. Sekarang ini kita mulai dengan yang baru dengan GESITS. Kita mulai pegang merek. Saya sudah sampaikan kepada pak Menristek segala sesuatu akan kita ubah, tentunya tidak mengurangi standart keselamatan,” terang Putu.

“Kita jangan berkecil hati. Kita harus mulai dan kita harus rawat ini bersama supaya bisa tumbuh dan tumbuhnya benar,” tegasnya. [dp/Ric]

© 2017 Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com All Rights Reserved.
KOMENTAR