Tsunami Jepang 2011: Ciptakan Sampah Mobil

Tsunami Jepang 2011: Ciptakan Sampah Mobil
/

TOKYO (dp) — Gelombang dasyat tsunami yang menghantam Jepang usai gempa besar di pantai timur Fukushima Perfecture, Jumat (11/3), telah melululantakkan daerah sekitar. Tak ada yang bisa selamat dari terjangan arus yang diprediksi mecapai kecepatan lebih dari 400 km/jam.

Mobil, rumah, bangunan, kapal, hingga pesawat udara terseret arus hingga 2 km dari bibir pantai. Rusak dan sangat mengenaskan kondisinya. Kini Jepang bersedih. Bukan cuma karena kerugian ekonomi yang ditaksir akan mencapai lebih dari 100 miliar dollar AS, tapi juga kehilangan ribuan nyawa.

Otoritas setempat memprediksi korban jiwa akan mencapai puluhan ribu. Setidaknya, hingga Minggu (13/3) korban telah tercatat lebih dari 2.000 jiwa.

Gempa di Jepang bukan 8,8 skala Richter seperti yang telah dilaporkan sebelumnya. Minggu kemarin Agen Metreologi Jepang talah merevisi bahwa magnitude gempa mencapai 9,0 skala Richter.

Kekuatan tersebut merupakan yang terbesar kelima dalam sejarah sistem pencatatan gempa setelah gempa Kamchatka (1952) dan Chili (1960) 9,5, Alaska (1964) 9,2, serta Sumatera (2004) 9,1.

Seluruh dunia terhentak atas bencana besar yang menimpa negara raksasa industri otomotif tersebut. Hampir semua stasiun televisi menampilkan gambar detik-detik ketika arus melumat harta benda da nyawa manusia.

Mobil yang terseret menjadi pemandangan paling dominan dalam tayangan-tayangan televisi. Sulit dibayangkan berapa banyak mobil diterjang ombak tsunami. Yang terlihat kini hanya sampah-sampah metal tanpa tahu siapa pemiliknya.

Tak terbayangkan pula apa yang dirasakan para korban yang terjebak di dalam mobil sebelum ajal menjemput bersama arus air yang menyeretnya.

Memang tak mudah lari dari kejaran arus tsunami. Dalam kekuatan gempa yang terjadi di Jepang, tak ada mobil di dunia ini yang mampu melawan kecepatannya.

Para ilmuwan mencatat sebuah kecepatan arus tsunami seperti yang terjadi di Jepang bisa mencapai 1.000 km/jam. Sementara energi dorongan yang dihasilkan bisa mencapai ribuan ton. Karena itu, bobot mobil yang rata-rata hanya 1,5 ton tidak berarti sama sekali bagi energi tsunami.

Tsunami Jepang setidaknya bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita, khususnya mereka yang ingin mengambil keputusan lari menghindar dengan kendaraan. Sebuah tayangan video di Jepang setidaknya memperlihatkan betapa tak berdayanya mobil dari kejaran arus air yang deras.

Akhirnya, terpenting bagi kita untuk dapat menghindar dari bencana gempa dan tsunami adalah mengikuti anjuran dalam peringatan dini yang diberikan pemerintah. Jangan terlalu banyak berfikir, terlebih untuk sekadar menyelematkan harta benda.

Ingat, bila semua orang berfikir lari dengan mobil lebih cepat, maka kemacetan akibat kepanikan justru bisa mengunci kesempatan untuk menjauh dari bencana. Di Jepang, sampah mobil yang terjadi hampir sebagian besar memang sengaja ditinggalkan pemiliknya.

Mari kita renungkan. [dp/GRG]

Oleh: Wisnu Guntoro Adi, Editor Dapurpacu.com

 

© 2014, Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com. All rights reserved.
0 Komentar


CAPTCHA Image
*