Aturan Impor Ban Truk, Konsumen : Kontra Produktif

Aturan Impor Ban Truk, Konsumen : Kontra Produktif

JAKARTA (DP) – Pembatasan keran impor ban yang dilakukan pemerintah melalui Peraturan Kementerian Perdagangan Nomor 77/M-DAG/PER/11/2016, per Januari lalu, membawa kerepotan bagi pengusaha truk. Sebabnya, ketersediaan ban truk jenis radial (salah satu jenis ban yang termasuk dalam aturan tersebut) jadi semakin langka. 

Itu dikarenakan, perusahaan yang memproduksi ban secara lokal hingga saat ini belum memiliki teknologi pembuatan ban radial khusus truk, yang tersedia di pasar hanya jenis ban bias.

Sehingga, menurut Kyatmaja Lookman, salah satu pengusaha truk ekspedisi di Indonesia, konsumen seperti dipaksa untuk membeli jenis ban bias bahkan harganya pun menjadi lebih karena permintaan melonjak.

“Kalau produsen lokal mengatakan produksi (ban radial) di Indonesia, produksi yang mana? Ban kan sama-sama hitam, cuma hanya ada ban-ban bias. Dengan adanya penutupan keran impor ban, maka produsen lokal jadi menaikan harga ban bias mereka hingga 10-30%,” terangnya kepada Dapurpacu.com, Kamis (30/3).

Kendati tujuan pemerintah membatasi keran impor agar perusahaan ban bisa memperbesar kapasitas dan jenis produksinya, tapi kan terang Kyatmaja, hal itu tak secepat yang diharapkan.

Hingga kini, belum ada dari perusahaan yang berkeinginan memperbanyak produksi ban radial truk, karena dianggap pasarnya masih kecil. Alhasil, saat ini yang dirugikan adalah pengusaha truk keluh Kyatmaja. Pasalnya, ini tidak terlalu berdampak signifikan bagi perusahaan ban.

“Mereka tinggal menggiring pengusaha untuk membeli ban truk jenis bias, ditambah harganya di naikkan. Jadi yang untung mereka, kita yang rugi. Lihat saja, harga logistik sudah tidak bisa naik. Soalnya, ban bias dengan radial itu beda kekuatan, itu pengaruh ke biaya operasional,” tambanya.

Sementara bagi importir ban, penetapan pembatasan impor ban yang di dalamnya juga mengatur peraturan baru perihal tata cara impor, dianggap semakin mempersulit proses impor.

Adanya aturan pelaporan, proses birokrasi berbelit dan proses survei ke pabrik pengekspor, ini semakin memakan waktu lama dan akhirnya produk pun jadi tertunda sampai ke pasar, berakibat terjadi kelangkaan.

“Sebenarnya peraturan ini bagus dengan membatasi ban-ban ilegal yang masuk ke Indonesia, tapi jangan sampai peraturan ini kontra produktif dan menjadikan ban yang ada menjadi lebih mahal dan stok barang sedikit,” katanya.[dp/Res]

© 2017 Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com All Rights Reserved.
KOMENTAR