Membaca Ulang Masa Depan Mobil Listrik Versus Konvensional

Membaca Ulang Masa Depan Mobil Listrik Versus Konvensional

JAKARTA (DP) – Mobil listrik memang kian populer beberapa tahun terakhir. Banyak produsen otomotif menggaungkan kendaraan zero polution ini sebagai ‘tindakan’ paling realistis mengenai isu ramah lingkungan. Namun, apakah mobil listrik bisa secepat yang dipikirkan menggeser tren mobil berbahan bakar fosil?

Menurut Yannes Martinus, Dosen Teknik ITB, saat acara diskusi yang diselenggarakan Forwot Indonesia beberapa waktu lalu, kendati di sejumlah negara Eropa dan Asia sudah melakukan pengetatan aturan soal emisi gas buang, dengan penerapan standar Euro 4, 5 hingga 6, tidak lantas mobil listrik diproduksi secara masif.

Hal tersebut disebabkan penerimaan pasar tidak mendorong pertumbuhan mobil listrik itu sendiri secara baik. “Saya pernah ikut OICA (eng: International Organization of Motor Vehicle Manufacturers), di sana diungkapkan data yang menjabarkan bahwa mobil listrik justru mulai ditinggalkan di Eropa,” katanya.

Fakta Penyerapan Mobil Listrik Versus Bahan Bakar Fosil

Itu diperkuat hasil studi terbaru Facts Global Energy (FGE) mengungkapkan, meski saat ini jumlah mobil listrik makin marak, mayoritas mobil baru di dunia masih tetap menggunakan bahan bakar fosil, setidaknya dalam 20 tahun ke depan.

Pada 2040, akan ada 1,8 miliar unit mobil terjual. Dari angka ini, mobil listrik hanya terjual 10% atau total keseluruhan populasi sekitar 180 juta unit.

Meski diubah ke dalam persentasi terlihat kecil, namun sebetulnya angka ini merupakan pertumbuhan cukup cepat. Sayangya, seperti dijelaskan, pertumbuhan ini masih terlalu sedikit untuk menandingi kepopuleran mesin konvensional.

Alasan Mobil Listik Mulai Ditinggalkan

Salah satu penyebabnya lanjut Yannes, ada di baterai, yakni ketika salah satu komponen utama mobil listrik ini tidak terpakai lagi dan harus dibuang, maka ada jutaan limbah B3 (bahan Berbahaya dan Beracun) per tahun yang menghantui mayarakat Eropa, termasuk industrinya.

Sehingga, mesin bahan bakar fosil terutama gasoline (bensin) terang Yannes, masih menjadi pilihan utama. Bahkan, mesin diesel pun juga turut ditinggalkan.

Sejalan dengan itu, FGE menyatakan setidaknya ada 4 alasan mengapa mobil listrik belum bisa mengalahkan mesin konvensional meski pada 20 tahun ke depan.

Pertama, pengembangan mobil listrik yang lamban. Pabrikan otomotif sebagai agen perubahan justru tidak ‘menawarkannya’ ke konsumen.

Kedua, soal harga. Mobil listrik masih terlalu mahal dibanding mobil konvensional. Karena ongkos produksi baterai masih sulit ditekan.

Ketiga, kepercayaan masyarakat masih lemah. Banyak yang menganggap mobil lsitrik akan merepotkan karena harus di charge dalam waktu lama. Belum lagi soal daya jelajah, serta stasiun pengisian kurang banyak.

Keempat, soal pasar. Asia dikatakan sebagai pasar paling potensial. Namun di wilayah ini permintaan mesin konvensional sangat tinggi, bahkan mengalahkan Eropa. Asia akan jadi penentu mobil listrik bakal eksis atau tidak pada masa depan.

Bagaimana Indonesia?

Di Indonesia sendiri, menurut Yannes, mobil listrik belum sepopuler seperti di Eropa. Selain karena infrastrukturnya jauh dari memadai. Alasan lainnya, harga masih cukup tinggi karena beban pajak untuk mobil listrik tinggi, dan ini didorong kebijakan pemerintah yang belum mendukung.

Untuk itu, Indonesia bisa optimalisasi ke arah tren industri otomotif berbahan bakar alternatif. Dengan mengejar ke pemanfaatan gas. Sebab lanjut Yannes, Indonesia memiliki sumber yang berlimpah, daripada memaksakan kendaraan berteknologi listrik.

“Infrasrukturnya juga sudah banyak tersedia. SPBG sudah mulai digalakkan, dan mengembangkan mobil berbahan bakar gas pun lebih murah dibanding listrik,” urainya. [dp/Gls/Rdo]

© 2017 Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com All Rights Reserved.
KOMENTAR