Masyarakat Minim Pengetahuan Perlintasan Kereta Api

Masyarakat Minim Pengetahuan Perlintasan Kereta Api

JAKARTA (DP)–Bagi kendaraan yang biasa melintas dari arah Depok menuju Pasar Rebo, tidak bisa lagi melewati jalur perlintasan sebidang kereta api di Jl. TB Simatupang (JPL No.20 C di Km 20+ 785 Lintas Manggarai-Bogor).

Pasalnya, pemerintah akan memberlakukan uji coba penutupan jalur itu mulai 21 April sampai 19 Mei 2017. Setelah itu, rencananya akan ditutup permanen per tanggal 19 Mei 2017 pada pukul 24.00 WIB.

Melalui keterangan resmi Kepala Sub Direktorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto mengatakan, terjadinya kecelakaan diakibatkan oleh pemahaman masyarakat terhadap  pengertian sarana atau prasarana per- KA ( palang pintu,Jalur KA, perpotongan sebidang,rambu-rambu dan lain-lain) masih sangat minim atau kurang.

Dalam Undang-Undang No 23 th 2007 tentang Perkereta Apian, pasal 1 angka 4 bahwa Jalur KA adalah jalur yang terdiri atas rangkaian petak jalan rel yang meliputi ruang manfaat-manfaat jalur KA, termasuk bagian atas dan bawahnya yang di peruntukan bagi lalu lintas KA.

Peraturan Pemerintah No 72 th 2009 tentang Lalu lintas dan angkutan KA, pasal 110 diatur bahwa :
a.pada perpotongan sebidang antara jalur KA dgn jalan yang selanjutnya disebut dengan perpotongan sebidang yang digunakan untuk lalu lintas umum atau lalu lintas khusus.
b.pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan KA.
c.dalam hal terjadi pelanggaran di atas yang menyebabkan kecelakaan maka hal ini bukan merupakan kecelakaan perkereta apian.
d.pintu perlintasan pada perpotongan sebidang tersebut berfungsi untuk mengamankan perjalanan Kereta Api.

“Dari salah satu aspek tentang palang pintu pada perpotongan sebidang, karena kecelakaan terjadi banyak diakibatkan  oleh  pemahaman terhadap aspek tersebut masih kurang,” ujar Budiyanto.

Budiyanto menambahkan, kecelakaan yang terjadi di perlintasan kereta, pada umumnya pengendara kurang waspada dan tidak mau sabar.

“Kejadian laka lantas pada perpotongan sebidang KA,  pada umumnya karena kurang hati-hati, lalai serta kurang pemahaman fungsi sarana dan prasarana perkereta apian masalah palang pintu KA. Kecelakaan yg terjadi pada
umumnya karena para pengemudi pada saat akan melintasi perpotongan sebidang yang tidak dipasang
palang pintu atau petugas lalai menutup palang pintu, mereka pada umumnya tidak menghentikan kendaraannya sejenak untuk mengetahui kepastian aman, namun mereka  langsung melintas, sehingga terjadi laka lantas, padahal ada tanda-tanda lain berupa  rambu-rambu ” STOP ” dan lain-lain yang mengisyaratkan larangan berjalan terus karena wajib berhenti,” jelas Budiyanto. Senin (20/3).

“Pada saat KA akan melintas hukumnya wajib untuk memprioritaskan perjalanan Kereta Api.
Perlu dipertegas bahwa palang pintu KA berfungsi untuk mengamankan kelancaran KA bukan untuk sarana mengamankan atau melindungi pengguna jalan,” tegas Budiyanto.[dp/Ric]

© 2017 Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com All Rights Reserved.
KOMENTAR