Test Ride: Honda Africa Twin di Lintasan Off-Road

Test Ride: Honda Africa Twin di Lintasan Off-Road

JAKARTA (DP) — All-New Honda CRF1000L Africa Twin yang meluncur tahun lalu telah mengusik rasa ingin tahu para pecinta petualangan bermotor, khususnya motor besar adventure.  Ini karena Honda mengklaim Africa Twin sebagai petualang sungguhan. Motor yang bisa dikendalikan diberbagai kondisi jalan, baik aspal maupun off-road.

Tahun ini Africa Twin pun masuk pasar Indonesia. Secara resmi motor tinggi ini diniagakan agen pemegang merek Honda, Astra Honda Motor (AHM). Dua tipe langsung dihadirkan, yaitu manual 6-speed dan DCT (Dual Clutch Tranmission, Transmisi Kopling Ganda).

Kedua tipe tersebut masing-masing dibandrol on the road senilai Rp 464 juta dan Rp 499 Juta.

Dapurpacu.com mendapat kesempatan mencoba Africa Twin tipe DCT. Namun dalam pengujian ini kami memokuskan permainan di lintasan enduro atau off-road.

Buat kami sederhana. Africa Twin yang sejatinya diset untuk berhadapan dengan BMW R1200GS, Ducati Multistrada 1200, Triumph Explorer 1200, dan KTM 1190 Adventure R memiliki kesan hampir serupa bila dilajukan di jalan aspal.

Dalam konteks melesat di aspal Africa Twin hanya kalah dua tingkatan dari R1200GS dan Explorer. Terutama pada hal kenyamanan dan performa di putaran mesin atas.

Ini karena kedua kompetitornya tersebut menggunakan mesin lebih besar dan sistem penggerak akhir roda berupa gardan. Karenanya R1200GS dan Explorer bisa melesat dalam grafik performa linear.

Sementara Africa Twin bisa dikatakan berkarakter sama dengan Multistrada yang memanfaatkan final drive berupa rantai. Hanya saja, karena kapasitas mesin Africa Twin hanya 998 cc, sedangkan Multistrada 1.198 cc, maka performa yang dihasilkanpun kalah.

Dan, Honda sadar atas kondisi tersebut. Karena itu, Africa Twin mengambil peluang untuk mengalahkan ketiganya di medan off-road. Celah ini sangat menarik. Terutama bagi para pecinta petualang yang ingin berkelana tanpa batas jalan.

Baiklah, kami akan langsung bercerita tentang kemampuan Africa Twin dimainkan di medan off-road. Kecuali Multistrada 1200 dan KTM 1190, Dapurpacu.com pernah mencoba R1200GS dan Explorer di medan off-road.

Ini menjadi modal penting untuk perbandingan. Bahkan kami juga pernah memainkan BMW R800GS di lahan enduro. Kata sebagian orang R800GS dirasa lebih setimpal dengan Africa Twin. Apakah benar?

Hal mendasar yang perlu cepat disadari ketika memainkan Afrika Twin tipe DCT adalah ketiadaan tuas kopling dan pedal gear di kaki kiri. Fungsi kedua sistem tersebut telah digantikan dengan tombol-tombol yang bergerak secara elektronik.

Secara sederhana bisa dikatakan mengendarai Africa Twin DCT sama dengan menunggang skuter-skuter matik. Dalam konteks ini Africa Twin terkesan lebih canggih dari semua kompetitornya.

Namun sejauh mana fungsi tersebut membantu dalam penetrasi di lintasan-lintasan off-road? Seperti kita ketahui dalam permainan enduro peran tuas kopling menjadi sangat penting sebagai pengendali putaran mesin, torsi, dan tenaga.

Rem ABS dan kontrol traksi memang dibekali pada Afrika Twin. Tapi ini bukan sesuatu yang perlu dibanggakan. Pasalnya, semua kompetitornya juga memiliki fitur serupa yang sama canggih.

Artinya, ada fungsi yang hilang dari Africa Twin ketika dia dihadapkan pada jalur-jalur single track, tanjakan tinggi, dan turunan terjal. Di atas ketas tampak seperti itu.

Ternyata tidak. Africa Twin DCT memiliki keuntungan tersendiri. Padahal bobot motor ini  dengan bensin terisi penuh (18,8 liter) mencapai 242Kg. Lebih berat ketimbang R1200GS sekalipun.

Keuntungan yang dimiliki Africa Twin adalah posisi berdiri dengan tangan menggenggam setang yang sangat baik. Penggunaan ban berdiameter 21 inci (depan) dan 18 inci (belakang) juga mendukung dalam menghadapi berbagai rintangan jalan.

Dengan posisi berkendara berdiri yang baik setidaknya Africa Twin mudah diseimbangkan. Dua test rider kami, saya Wisnu Guntoro Adi, dan Jack Maulana, membuktikannya.

Ketika menghadapi single track, di mana roda depan tidak bisa banyak bergerak ke kanan dan ke kiri, keseimbangan sepenuhnya dikendalikan pengendara. Dengan Africa Twin proses teknikal ini lebih mudah.

Selain itu, posisi berkendara berdiri yang diberikan Africa Twin terbilang baik. Ini menguntungkan ketika kami menghadapi tanjakan tinggi dan turunan terjal.

Saat berhadapan dengan tanjakan tinggi pengendara bisa memajukan badan sejauh mungkin tanpa terhalang tangki yang besar.

Sementara bagian bodi samping belakang yang ramping juga menguntungkan ketika bokong harus mundur sejauh yang bisa kita lakukan saat menghadapi turunan terjal.

Di samping itu, dengan bodi yang terlihat ramping, Africa Twin menghasilkan rasa percaya diri tinggi bagi pengendara. Setang lebar bahkan memudahkan pengendara ketika bermanuver dalam radius putar pendek.

Satu keuntungan lain, dengan tidak adanya tuas kopling maka kekuatan penuh tangan bisa tercurah pada kemudi, sekaligus tidak melelahkan. Para insinyur Honda tampaknya mengerti betul kekelahan jemari tangan para pemain enduro ketika memainkan kopling di lintasan off-road.

Namun, performa yang dikontrol sistem elektronik menjadi persoalan tersendiri bagi pengendara. Terlebih bagi mereka yang baru mengenal karakter Africa Twin tipe DCT, dan secara penuh memainkannya dalam menu otomotis.

Ada rasa khawatir ketika gas hilang akibat roda kehilangan cengkraman di tanjakan tinggi. Bila pengendara terlalu cepat gugup dalam menghadapi situasi ini, resiko terjatuh sangat tinggi.

Pada kondisi ini yang harus dilakukan pengendara adalah tetap tenang sambil menjaga keseimbangan. Karena dalam hitungan sepersekian detik sistem elektronik Africa Twin bisa kembali memberikan tenaga pada roda.

Atau, lakukan saja pengontrolan gear manual secara cepat. Proses ini bisa dilakukan spontan dengan menekan tombol minus (-) dengan ibu jari tangan kiri untuk menurunkan tingkat percepatan.

Lebih baik lagi, bila Anda terbiasa bermain off-road, non-aktifkan sistem kontrol traksi. Caranya mudah. Cukup dengan menekan tombol di bagian kiri setang.

Nah, dengan pelepasan fitur kontrol traksi ini dan mengubah perpindahan percepatan dengan cara manual (tiptronik) maka permainan enduro dengan Africa Twin jauh lebih mengasikkan. Setidaknya tidak melelahkan seperti pengalaman saya bermain enduro dengan R800GS.

Catatan lain, biasakan agar tangan kanan tidak mudah reaktif pada gas. Sebab motor bertenaga 94 hp pada 7.500 rpm dan torsi 98 Nm pada 6.000 rpm ini tidak memiliki kopling untuk menetralisir putaran mesin dengan cepat. Ya, seperti motor matik umumnya. [DP/GRG]

© 2017 Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com All Rights Reserved.
KOMENTAR