Menolak Mangkrak, Esemka Beberkan Strateginya

Menolak Mangkrak, Esemka Beberkan Strateginya

JAKARTA (DP) – Meleset dari target awal pada 19 Agustus 2016 lalu, bukan berarti PT Adiperkasa Citra Esemka Hero (Esemka) mangkrak menjalankan proyek peluncuran pikap pedesaan Esemka di Indonesia. (Peluncuran Esemka Agustus 2016)

Keterlambatan proyek yang digadang membawa gengsi produk nasional sejak tahun lalu itu, menurut Managing Director Esemka, Hosea Sanjaya, merupakan hal yang biasa.

“Tidak ada kendala, itu sesuatu yang wajar yah, sebuah proses seperti layaknya rumah tangga. Begitu kan,” katanya kepada Dapurpacu.com, Minggu (5/2).

“Tapi yang jelas, proyeknya masih berjalan. Memang tidak sesuai jadwal. Saya tidak bisa bicara apa yang sesungguhnya.”

“Kita ini kan ingin membangun industri secara holistik, bukan sekedar buat mobil satu atau dua unit. Tapi massal, berkelanjutan, dan lain-lain,” tegasnya, sambil menujukkan sejumlah dokumen penting per tanggal 23 Januari 2017, mulai dari penanaman modal dalam negeri, kerjasama pemodalan lain, keterangan produk, hingga legislasi merek Esemka.

Pabrikasi

Sebagai langkah serius pertama, Esemka telah menggelontorkan investasi awal sebesar Rp 1,4 triliun. Ditujukan untuk pembangunan industri otomotif berprioritas pada kendaraan niaga pedesaan.

“Dari dana tersebut, kita sudah siapkan lahan industri sekitar 35 ha di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat,” terang Hosea. “Targetnya, pabrik bisa memproduksi sebanyak 30 ribu unit per tahun. Proyeksi memenuhi kebutuhan domestik maupun ekspor.”

Kemudian, tahapan pabrikasi menuju perusahaan yang mandiri, perusahaan otomotif swasta nasional yang digawangi mantan kepala BIN, Hendro Priyono ini juga telah menetapkan pengembangan karoseri dan komponen dalam negeri.

Mobil-Esemka-proyek

Produk

Produk Esemka sendiri, menurut Hosea, fokusnya pada segmen pikap serbaguna. “Modelnya ada single kabin maupun kabin ganda. Keduanya dibekali dua pilihan mesin, berkode ADIA 1.0-liter dan 1.3-liter DOHC, 16 valve, berbahan bakar bensin atau solar.”

Langkah ke depannya, harap Hosea, Esemka bisa mencapai kemampuan produksi secara mandiri, terutama komponen krusial seperti mesin dan transmisi.

“Mesin dan transmisi itu kan susah, jadi ini harus dikejar bisa bikin sendiri. Sementara karoserinya kan itu gampang.”

Caranya? “Kita mulai menggandeng mitra strategis dari mana saja. Sementara pemanfaatan sumber daya lokal melalui pendirian pusat pelatihan untuk siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Lokasinya? Ya ini, Mandiri Tower” timpalnya.

Layanan Purna Jual

Setelah produk sudah siap, bersamaan itu jaringan penjualan dipersiapkan pula hingga purna jual resmi.

“Seperti, membuka kerjasama dengan perusahaan pembiayaan, kemudian asuransi kendaraan untuk layanan purna jual,” katanya.

Esemka sendiri menetapkan garansi 3 tahun atau 60.000 Km setiap produknya, disertai berbagai program layanan purna jual lain, seperti mobil servis dan mobil pengganti.

Dari gambaran master plan Esemka Indonesia, Hosea mengklaim bahwa sebagian besar sudah terealisasi. “Kalau presentasinya ya saya pikir kita sudah pada level 80%.” [dp/Rdo]

© 2017 Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com All Rights Reserved.
KOMENTAR

  1. Sire id
    8 February 2017

    Semoga aja lekas terealisasi