Test Drive Mercedes-Benz GLC 250 4MATIC: Praktis dan Senyaman Sedan

Test Drive Mercedes-Benz GLC 250 4MATIC: Praktis dan Senyaman Sedan

JAKARTA (DP) – Seiring berkembangnya tren pasar otomotif pada segmen Sport Utility Vehicle (SUV), Mercedes-Benz menjadi salah satu manufaktur di dunia yang cukup agresif ‘menyerang’ segmen kendaraan yang lebih serba bisa, dalam beberapa tahun belakangan ini.

Untuk menyesuaikan semakin banyaknya model, Mercedes bahkan harus merombak sejumlah nomenklatur agar masyarakat tidak bingung untuk mengklasifikasikan model apa di segmen mana. Pengubahan nomenklatur tersebut tidak memengaruhi model-model klasik seperti C, E dan S-Class.

Untuk segmen SUV di luar G-Class yang tiada duanya, Mercedes kini memiliki barisan model mulai GLA, GLC, GLE, sampai GLS yang termewah. Banyaknya pilihan SUV atau crossover dari Mercedes betujuan agar konsumen bisa memilih SUV yang sesuai dengan karakter atau kebutuhannya.

Kali ini kami berkesempatan untuk mengencani Mercedes-Benz GLC 250 4MATIC, SUV yang berbagi plaform dengan model sedan C-Class, sekaligus menjadi varian dasar dari GLC di Indonesia. Model yang telah dirakit sendiri oleh Mercedes-Benz Indonesia dari Wanaherang, Bogor, Jawa Barat ini ditawarkan dengan banderol Rp 899 juta off the road.

Sedikit flashback, nama GLC pertama kali hadir pada tahun 2015 sebagai generasi baru pada segmen compact luxury SUV. GLC sendiri sebenarnya bukanlah model yang benar-benar baru dari Mercedes, karena kehadirannya menjadi pengganti dan penerus dari model GLK yang ditinggalkan oleh nomenklatur baru.

Desain
Karena berbagi platform, tidak sulit menemukan kesamaan antara GLC dengan C-Class, khususnya saat melihat tampilan eksteriornya. Fascia depan GLC sangat khas C-Class generasi terkini (W205), yang bisa ditemui melalui desain lampu depan dan grille.

Sementara menilik bagian buritannya, karakter SUV cukup kuat ditampilkan GLC dengan desain lampu belakang yang memanjang, sepintas mirip dengan milik Porsche Macan. Garis pilar C yang tegak dan ground clearance bongsor turut memperkuat tunggangan yang siap diajak bertualang ini.

Kekhasan C-Class pun tidak luput diterapkan juga pada interior, di mana desain dasbor yang dipakai sama persis. Paduan balutan kulit, panel kayu dan ornamen metal berwarna perak menegaskan kemewahan berkelas dari pabrikan asal Stuttgart, Jerman ini.

Meski memiliki tongkrongan yang terbilang tinggi, kami merasa duduk di dalam kabin GLC dengan seluruh kemewahannya seperti berada di dalam sebuah sedan.

Fitur
Unit tes yang kami coba kali ini adalah GLC 250 varian standar rakitan lokal (CKD), tentunya memiliki banderol harga yang lebih terjangkau. Namun sayangnya, MBI memilih untuk melepas sejumah fitur untuk mengejar harga tersebut.

Contohnya, spion samping tidak memiliki fitur pelipatan elektronik, spion dalam tidak memiliki auto-dimming, kamera mundur yang tidak dilengkapi sensor parkir, tombol starter mesin dan absennya sistem navigasi pada infotainment.

Lalu karena GLC tidak dibekali ban jenis Run Flat Tire (RFT) dan berusaha memenuhi regulasi di Indonesia, ruang bagasi harus tersita cukup banyak untuk meletakkan ban cadangan.

Selebihnya, GLC cukup kaya fitur selayaknya SUV premium seperti pintu bagasi elektrik, sistem pelipatan kursi belakang melalui satu tombol, berikut fitur keselamatan Hill Stat Assist, adaptive brake with hold function, lalu airbag di bagian pilar dan legroom.

Performa dan Pengendalian
Soal sensasi dari balik kemudi, GLC kami merasa seakan dimanjakan seperti sedang megnendarai sebuah sedan. Selain karena desain kabin yang memang serupa dengan C-Class, pendendaliannya pun sehalus dan senyaman khas sedan Jerman.

Saat mengajaknya ke satu daerah di sekitar kota Bogor, Jawa Barat, kelembutan ayunan suspensi sepanjang perjalanan menjadi hal yang paling kami nikmati dari GLC. Saat menemui jalan bergelombang, mobil pun tidak berguncang keras mengganggu kenyamanan di dalam kabin.

Putaran kemudinya pun halus dan ringan, namun di sisi lain justru terasa agak lemah dalam hal feedback. Tidak sepenuhnya kami bisa merasakan kontak antara roda dan ban depan dengan permukaan jalanan.

Sementara mesin empat silinder 2.0 liter turbo untuk mengakomodasi SUV seperti ini kami rasa sudah pas, tidak lemas dan tidak terlalu galak juga. Perpaduan mesin dengan sistem transmisi 9G-TRONIC otomatis berhasil meyalurkan tenaga 211 hp dan torsi 350 Nm dengan takaran yang pas.

Mesin responsif saat diajak berakselerasi ringan untuk sekadar menyalip kendaraan lain, serta sudah cukup galak saat pedal gas diinjak lebih dalam untuk lebih merasakan performanya, bahkan saat Dynamic Select dalam mode mengemudi Comfort. Sebenarnya ada pilihan mode Sport untuk bisa mengerahkan mesin dan handling lebih optimal, namun kami rasa mode Comfort sudah sangat pas.

Aplikasi sistem penggerak 4MATIC mendistribusikan output mesin ke seluruh rodanya. Meski begitu, gejala understeer justru minim terasa saat kami memacu kencang GLC melewati berbagai tikungan.

GLC dengan dimensi panjang 4,6 meter, lebar 1,89 meter dan tinggi 1,6 meter masih terbilang kompak, pun tidak merepotkan untuk diajak mengarungi kemacetan di dalam kota. Sehingga, GLC cocok untuk diandalkan sebagai sarana mobilitas sehari-hari di dalam kota, maupun untuk bepergian jauh. [dp/Whr]

© 2017 Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com All Rights Reserved.
KOMENTAR

  1. dolan yok
    22 January 2017

    Dolan yok