INDEF: Pasar Otomotif Indonesia Belum Merata, Daerah Butuh Insentif

INDEF: Pasar Otomotif Indonesia Belum Merata, Daerah Butuh Insentif

JAKARTA (DP) – Salah satu indikator baik atau buruknya perekonomian dalam suatu negara adalah meratanya perkembangan ekonomi, di mana tidak ada perbedaan mencolok antara satu daerah dengan yang lainnya. Ini masih menjadi hal yang perlu diperbaiki di Indonesia, di antaranya jika ingin menumbuhkan industri otomotif pada tahun 2017.

Jika melihat kondisi sekarang, praktis hanya masyarakat di kota-kota besar yang memiliki daya beli cukup tinggi untuk memiliki kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat. Sementara di berbagai daerah lainnya, tidak jarang akses kendaraan masih sulit didapat untuk mendukung kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut karena selama ini pemerintah hanya berkonsentrasi pada kota-kota besar dalam memerhatikan industri otomotif. Imbasnya, kelebihan populasi kendaraan terjadi di kota besar yang berakibat kemacetan di jalan raya.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan, seharusnya pemerintah mengambil langkah agar daya beli masyarakat di luar kota-kota besar di sektor otomotif juga bisa tinggi. Menurut INDEF, daya beli masyarakat saat ini masih sangat tinggi di pasar otomotif, meski angka penjualan nasional cenderung turun tiga tahun terakhir.

“Ini yang memang menjadi persoalan. Oleh karenanya, sebenarnya bagaimana PR ke depan itu adalah meratakan daya beli masyarakat menengah ke atas jangan sampai terkonsentrasi di kota-kota besar,” kata Enny Sri Hartati, Direktur INDEF saat ditemui Dapurpacu.com.

“Tentu kalau itu yang harus dilakukan maka harus ada pergeseran, jadi katakanlah misalnya untuk kendaraan-kendaraan pribadi digeser permintaannya untuk lebih ke daerah. Artinya pemerintah daerah memberikan insentif untuk kemudahan-kemudahan masyarakat mengakses kendaraan.”

Salah satunya program Low Cost Green Car (LCGC) yang telah dijalankan pemerintah sejak 2013, dianggap Enny sejauh ini tidak tepat sasaran, karena mayoritas konsumennya berada di kota besar. Masyarakat di kota-kota kecil atau daerah justru seharusnya yang bisa lebih menikmati program ini.

PT Astra Daihatsu Motor (ADM) sebagai produsen LCGC terbesar pun dalam sebuah kesempatan pernah mengakui, bahwa penjualan terbesar mobil murah tersebut memang berasal dari kota-kota besar, terutama Jabodetabek. LCGC dihadirkan sebagai kendaraan dengan harga murah dan konsumsi bahan bakar irit.

Kota-kota besar seharusnya lebih bisa mengembangkan moda transportasi umum agar lebih nyaman dan layak, agar minat menggunakan transportasi umum semakin tinggi dan penggunaan kendaraan pribadi bisa berkurang.

“Ini (Program LCGC) mestinya tidak boleh di kota-kota besar, katakanlah di Jakarta, Surabaya, Medan, kota-kota yang sudah crowded transportasinya, ini mestinya tidak dikasih izin. Otomotif apa yang cocok untuk kota-kota besar adalah public transport, jadi industri-industri otomotif diminta untuk memproduksi public transport yang compatible untuk Jakarta,” tambah Enny. [dp/Whr]

© 2017 Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com All Rights Reserved.
KOMENTAR