Renault Kwid Menampar Slogan “Murah” Mobil LCGC

Renault Kwid Menampar Slogan “Murah” Mobil LCGC

JAKARTA (DP) – Sontak kami terbelalak ketika mengatahui harga jual produk yang baru saja dirilis, hari ini Rabu (19/10), di Jakarta, hasil kolaborasi Nissan-Renault mewujud sebagai Sport Utility Vehicle (SUV) kompak, Renault Kwid, itu jauh lebih murah daripada mobil berlabel program Low Cost Green Car (LCGC).

Bandingkan, Kwid hanya dibanderol Rp 117 juta (on the road), sementara Toyota Calya tipe paling “cupu” dilepas Rp 129 juta lebih, dan tipe tertinggi mencapai Rp 150 juta (harga setelah naik per Oktober).

Dengan begitu, kehadiran Kwid jelas memunculkan pertanyaan besar bagi kami. Kenapa produsen penikmat insentif khusus, tidak bisa menghasilkan produk yang diagungkan sebagai “mobil murah”, benar-benar terjangkau bagi konsumen? Padahal, sederet keringanan pemerintah yang diberikan tidaklah bernilai kecil.

Mulai dari pengurangan hingga pembebasan insentif fiskal bidang PPnBM (Pajak Penjualan Barang Mewah), kemudian bidang Pajak Penghasilan berupa investment allowance dan tax holiday. Termasuk juga, bidang Pajak Pertambahan Nilai dan Bea Masuk berupa pembebasan PPN (Pajak Pertambahan Nilai), PPN terhutang tidak dipungut sebagian atau keseluruhan, dan pembebasan bea masuk.

Sementara Renault Kwid yang diimpor dari India, seperti disampaikan Head of Sales and Marketing Division Auto Euro Indonesia, Ario Soerjo, hanya memanfaatkan pembebasan tarif bea masuk impor dari hasil perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement Indonesia-ASEAN-India.

Jika membaca untung-rugi dari emplementasi program LCGC, maka jelas negara sudah kehilangan pemasukan dari pajak hingga puluhan triliun dalam setahun.

Data dari Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN-DPR RI mempublikasikan, pada 2013 saja, negara sudah kehilangan Rp 1,5 triliun, dan ini baru terhitung dari penghasilan di bidang PPnBM, belum lagi dari bentuk pajak lainnya.

Dengan demikian, maka masih layakkah program LCGC diagung-agungkan sebagai upaya pemerintah agar bisa menghasilkan mobil dengan harga lebih murah? Termasuk tujuan-tujuan luhur lain yang nyatanya masih kontra produktif.

Kecuali, jika program LCGC lebih kepada tujuan pemerintah memberi peluang ke produsen untuk menawarkan “biaya produksi mobil yang lebih murah” mungkin itu ada benarnya. [dp/Rdo-Whr]

© 2017 Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com All Rights Reserved.
KOMENTAR

  1. aldiyansyahpratama
    10 December 2016

    Kenapa makin kesini harga mobil makin parah, Lama-lama jalan juga ngga kelihatan tuh aspalnya, Produksi otomotif harus bener bener mempertimbangkan masa depan lho, jangan cuma jadi jual dan untung doank.

  2. riefenation
    20 October 2016

    Salah sendiri pemerintah ga pernah niat buat mobil rakyat. (orba dulu pernah mau dibuat lho)