Orang Tua: Pembunuh Terbesar Tunas Bangsa

Orang Tua: Pembunuh Terbesar Tunas Bangsa
/

DEPOK (DP) — Para orang tua adalah pembunuh terbesar tunas-tunas bangsa, Itulah yang kami tangkap ketika melihat banyak anak berusia di bawah 17 tahun mengendarai sepeda motor di jalan raya.

Entah di Jakarta atau di kota-kota lain fenomena ini setiap hari kita lihat. Bahkan, mereka sambil bercanda dan berboncengan melebihi kapasitas sewajarnya. Ini sangat mengerikan!!!

Pemandangan seperti ini semakin terasa ketika masa liburan sekolah seperti Lebaran. Mereka hilir-mudik menggendarai sepeda motor. Di usia yang belum terbilang dewasa, sepeda motor sudah menjadi alat transportasi sehari-hari mereka meski minim teknik, pengetahuan berlalu-lintas, serta tanggung jawab.

Dalam pemantauan penulis dalam beberapa hari liburan Lebaran 2012, ratusan ABG (Anak Baru Gede) memenuhi lapangan pemancar Radio Republik Indonesia (RRI), yang berada di Jalan Raya Bogor Km 33, Depok. Hampir semuanya mengendarai sepeda motor. Area ini dijadikan tempat kumpul karena memiliki tanah lapang yang sangat luas.

Salah satunya Angga, seorang siswa kelas 9 di sebuah madrasah tsanawiah di Depok. Dirinya tinggal di daerah Sukatani, Depok. Ia mengaku sering menyambangi tempat ini saat liburan bersama teman-temannya yang masing-masing mengendarai sepeda motor.

Angga mengaku bisa mengendarai sepeda motor sejak kelas tiga SD (Red: umurnya sekitar 9 tahun ketika itu) lantaran selalu memperhatikan seseorang yang sedang mengendarai sepeda motor. Diam-diam, Angga kemudian menirukan menggunakan sepeda motor ayahnya.

Karena terbilang masih kecil dan masih dalam tahap belajar, sial, dia menabrak pagar rumahnya. Tapi, lucu dan ironis, dirinya justru mendapat restu dari ayahnya dengan mengajarinya.

Tanpa dibekali SIM (Surat Izin Mengemudi) C — karena belum memenuhi syarat minimal mendapatkan SIM — setiap hari Angga menggunakan sepeda motor untuk pergi ke sekolahnya, meski pihak sekolah melarangnya. “Saya diizinkan Ibu dan Bapak. Sepeda motor Saya titipkan di rumah teman dekat sekolah, karena sekolah tidak mengizinkan membawa motor,” ungkapnya saat ditemui.

Pelanggaran-pelanggaran lalu lintas telah ‘pandai’ dilakukannya. Angga mengakui selalu memutar dan melawan arah jalur jika melihat ada razia kendaraan oleh kepolisian.

“Saya gak pernah pake helm kalo ke sekolah,” akunya. “Ngapain pake helm, di jalan jarang ada polisi, mas.”

Selain ke sekolah, liburan Lebaran seperti ini dihabiskan Angga untuk jalan-jalan mengendarai sepeda motor.

“Paling jauh, saya mengendarai sepeda motor ke Cikeas dan Cibinong. Saya biasa lari dengan kecepatan 80 km/jam.”

Menurut Angga, orang tuanya tak merasa khawatir dengan dirinya. Dengan pengawasan yang terbatas dari orang tuanya, Angga kerap membohongi orang tuanya jika ingin pergi jauh. “Kalo ketahuan Mama dan Papa, saya pasti dimarahi,” katanya, yang mengaku baru saja dibelikan sebuah skutik.

Menanggapi maraknya anak-anak di bawah umur mengendarai sepeda motor, Harry Apriatna, seorang warga yang tinggal di sekitar pemancar RRI, mengatakan ketidaksukaannya. Menurutnya, bisa membahayakan para pengendara lain.

“Mereka kurang perhitungan atau tidak memilikinya sama sekali. Apalagi sampai ke jalan raya. Biasanya, kalo liat temennya ngebut, teman lainnya ikut ngebut,” ujarnya.

Harry melarang anaknya untuk mengendarai sepeda motor. Kecuali jika sudah memenuhi Syarat Usia Minimal Mendapatkan SIM C.

“Dia masih duduk di kelas 8 SMP. Nanti saja kalo sudah memenuhi Syarat Usia Minimal, saya baru izinkan. Teman-temannyayang bawa kendaraan suka lupa waktu kalo jalan-jalan naik sepeda motor,” katanya.

Sementara itu, Sugeng, ayah dari seorang anak yang duduk di kelas 3 SD, mengaku sedang mengajarkan anaknya mengendarai sepeda motor. Sugeng mengatakan, anaknya akan digunakan untuk mengantarkan ibunya pergi ke pasar.

“Dia hanya akan saya izinkan berkendara di sekitar rumah dan ke pasar. Kebetulan jaraknya tidak jauh. Saya tidak mengizinkan untuk berkendara ke sekolah,” ujar warga Kelurahan Cisalak, Depok, ini.

Baik Sugeng, orang tua Angga dan para orang tua lainnya yang memberikan ‘lampu hijau’ merupakan pembunuh anak-anak mereka sendiri. Menurut UU No. 22 Tahun 2009 “Lalu Lintas & Angkutan Jalan” pasal 81 ayat 2 dikatakan Syarat Usia Minimal untuk mendapatkan SIM C, SIM A dan SIM D adalah 17 tahun.

Apakah Anda termasuk seorang pembunuh? [dp/Kuh]

© 2014, Majalah Otomotif Online by. Dapurpacu.com. All rights reserved.
17 Komentar


CAPTCHA Image
*

  1. Mumed bin Puyeng

    Orang tua yg memberi ijin anaknya yg masih dibawah umur utk mengendarai sepeda motor memang bisa dikatakan SALAH, namun yg lebih SALAH lagi menurut saya adalah, mohon maaf, penegak hukum yang TIDAK BISA melakukan penegakan hukum atas pelanggaran2 yg berlangsung di depan matanya. Masyarakat, dimanapun itu, cenderung menabrak aturan. Semakin mereka melihat dan merasakan bahwa penegak hukum tidak tegas, maka semakin menjadi-jadilah pelanggaran yg mereka lakukan. Cobalah, hukum ditegakkan sesuai aturan yg berlaku!!! niscaya orang akan jeri utk melakukan pelanggaran. Disiplin dan kesadaran masyarakat hanya bisa tercipta bila hukum DITEGAKKAN. Kapan saja, dimana saja.

  2. iya bener mereka para abg suka seenaknya aja dijalan klo dibilangin malahan sewot, pernah saya ngalami hampir dikeroyok warga gara2 ada 2 motor abg yang tabrakan persis di sebelah mobil yg saya bawa, ternyata ada yang memprovokasi bahwa saya yang nabrak padahal jelas2 bukan saya yg nabrak dan byk jg saksi yang liat, tp ttp aja saya di mintain ganti rugi, saya tolak malah saya tantangin ke polisi eh malah hampir dikeroyok, untung aja dipisahin ama tukang ojek yang ada disitu..setelah tukang ojek itu ngejelasin , baru orang2 yg liat malah gantian marahin abg itu..hehehe..

  3. anak dibawah umur jangan sekali2 diberikan motor,karena bahaya bagi dia dan pengguna jalan lain!karena anak2 msh mencari jatidiri/masih labil yg memerlukan bimbingan orang tua

  4. anak dibawah umur jangan sekali2 diberikan motor,karena bahaya bagi dia dan pengguna jalan lain!karena anak2 msh mencari jatidiri/masih labil

  5. salah satu kasus, sebuah mobil proyek salah satu PT melaju di jalan lurus tanpa hambatan, tiba2 ada anak smp masuk ke jalan raya, dan tanpa bisa menghindar tertabrak mobil tersebut, hanya motornya yang rusak kecil. pengendara mobil tidak bersedia mengganti karena merasa tidak salah. naasnya pengndara mobil di keroyok oleh wargayg tidak tahu detail kejadian tersebut.

    bukankah yg salah pengendara motor dibawah umur??! fakta

  6. Yang Apes banget mah kalo tabrakan berurusan sama abg ababil kaya gini .

  7. R - Jakarta

    1. Kesalahan utama kepolisian lalu lintas kita. Tidak di berdayakan upaya penegakan hukum yang tegas dan berkesinambungan.

    2. Pendidikan yang rendah, mental yang tidak siap dan pemahaman dan tanggung jawab yang belum dimiliki oleh kebanyakan orang kita.

    Masalah ini sudah lama kok, kalau institusi yang berwenang melakukan pekerjaannya, tidak akan begini. Hukum dan kepolisian sudah diremehkan. Masyarakat kita sudah terlalu tidak peduli dengan keselamatan sekitar dan hukum berkendara yang baik, foto-foto diatas sudah pemandagan umum.

  8. dekisugi

    seharusnya negara melindungi anak2 ini dengan membebankan hukuman kepada orangtuanya… artikel bagus.. saya rujuk dari blog saya deh…

  9. Paeran Anak Desa

    Masalah etika berlalulintas baik oleh motor maupun mobil saya sempat perhatikan memang tergantung dari mentalitas dan kedewasaan berlalulintas pengemudinya. Tingkat etika para pengendara motor dan mobil agaknya dipengaruhi segmentasi produknya (terus terang DP motor yg rendah menyebabkan orang-orang yang belum siap secara mental- biasanya berhubungan pula dengan latar belakang pendidikannya- jadi bisa memiliki kendaraan. Semprull tenan!

  10. wong SIM bisa di beli ngak pake praktek,,, dasar korupsi

  11. gk nyambung sih,
    kalo motornya dipinjem org trus gk pulang2 itu motor, pasti bingung kawatir campur aduk…jgn2..?

    tp kalo anak gadisnya diajak jalan org , gk pulang2 jg kadang gk kawatir…

    jd, bisa dibilang masih mahalan itu motor drpd anak gadisnya..

  12. jgn lupa

    Sistem pemberian ijin mengemudi jg masih kacau, sanksi jg tidak buat jera. Ini semua jadi sebab akibat keruwetan jalanan. Untuk apa punyaSIM. Tapi rambu dan marka jalan tidak mengerti. Dan jgn lupa jg ga cuma motor, mobilpun banyak yg belum bisa dapat ijin tp sudah memadati jalan. Terus terang saya driver n biker yg 5 tahun ga pegang SIM krn kecewa dgn samsat. Tp saya mengutamakan etika dan toleransi di jalan.

  13. muhamad ilman ramadh

    betul bro seharusnya sim itu di buatnya untuk anak umur 16 tahun aja supaya gw bisa mengemudi di jalan dengan santai

  14. Bukan hanya membunuh bila anak kecil di kasih lampu hijau untuk naik motor,tapi malah jadi pembunuh.orang tua Ўªήƍ tidak berpendidikan Θàή malas itu Ўªήƍ kejam membiarkan anaknya pergi sendiri naik motor

  15. hehehe

  16. seharus SIM motor minimal usia 18 dan Sim Mobil Minimal 19 tahun dan SIM umum dan Truk minimal 20 Tahun .

    mau rental mobil minimal usia 23 tahun

  17. Anak muda gaul

    Sangat setuju sekali, sering berinteraksi dgn pengendara anak2 usia tanggung yg penuh resiko dan tanpa perhitungan sama sekali. Mengambil jalur seenaknya, bermanuver sekenanya, tidak menghargai pengendara lain, mengekspresikan diri dgn kebablasan, tidak mendahulukan penyeberang jalan dan pejalan kaki. Seandainya terjadi kecelakaan, pengendara yang lebih dewasalah yg dimintai pertanggung jawaban meskipun mereka dilengkapi surat2, SIM dan lain sebagainya.